Posted by : Tatakae! Fansubs Apr 6, 2011



Sejak saya “bertemu” dengan reporter ini, saya jadi lebih aware terhadap berita dan keindahan Indonesia, karena Ia merupakan seorang reporter untuk feature bergenre travelling. Ia adalah salah seorang yang mampu merubah hidup saya. Ia hanya seorang reporter dan narator (hanya itu yang saya tahu), namun saya tak pernah meremehkannya, malah saya semakin menyukai segala hal tentangnya (bahkan hingga saya berkeinginan menjadi seorang camera person tvOne, karena keinginan untuk menemaninya liputan, dan menjadi seorang camera person sepertinya cocok untuk saya yang pendiam).


Pertemuan saya dengan reporter ini sungguh menyenangkan. Pada bulan Ramadhan tahun 2009, sambil mencari tayangan untuk menunggu buka puasa, ada sebuah dokumenter bernama Jejak Islam yang ditayangkan oleh tvOne (pada saat itu ditayangkan pukul 3 sore). Entah kenapa, seketika saja saya langsung tertarik dengan program ini, dengan pembahasannya, cara penyampaian dokumentasi yang santai oleh para reporternya, dan juga pengambilan gambar panorama yang diliput sangat bagus. Saya akhirnya banyak mengetahui sejarah dan cerita tentang penyebaran agama Islam di berbagai negara, sekaligus saya menjadi tahu bahwa masih banyak kota-kota indah di luar sana, selain Paris dan Tokyo. Dan dari program ini pula saya mengenal para reporter seperti Yulika Satria Daya dan Nuray Rifat. Seseorang yang saya bahas dari tadi adalah seorang Nuray Rifat.

Nuray Rifat yang saya lihat pada feature Jejak Islam adalah seorang yang sangat cantik, dengan rambutnya yang masih sebahu. Perjalanan dirinya yang paling saya ingat yaitu saat ia liputan Jejak Islam di kota Saigon atau Ho Chi Minh, Vietnam. Kegiatannya di Chau Doc antara lain mengunjungi Masjid Jami’ul Mubarak, melihat sebuah Al-Qur’an yang berusia ratusan tahun, mengunjungi sebuah pesta pernikahan yang kebetulan sedang diadakan, melihat acara Nuzulul Qur’an. Pada episode lainnya, ia mengunjungi Madrasah An-Nur, mempelajari sebuah tarian (ia memakai baju tarian berwarna pink, cantik sekali), membeli mukena, dan sempat sholat dzuhur di salah satu mesjid setempat (kalau tidak salah nama masjidnya adalah masjid Dong Du, masjid terbesar di kota Saigon/Ho Chi Minh). Yang paling membuat saya kagum adalah ketika ia bersama seorang anak dari madrasah An-Nur membaca ayat Al-Qur’an dengan sangat lancar dan fasih. Saya tidak bermaksud melebihkan, tetapi pada saat itu suaranya terdengar sangat merdu. Sejak itulah kehidupan saya berubah, seakan ia berkata bahwa seorang yang baik bisa menjadi lebih baik lagi.

Namun setelah ramadhan berakhir, program Jejak Islam tidak ditayangkan lagi saat sore. Saya kemudian membaca jadwal yang ada di situs tvOne, ternyata Jejak Islam ditayangkan setiap hari namun pada pukul 3 pagi. Saya yang pada saat itu masih seorang pelajar SMA, hanya berpikir tentu akan mengganggu pelajaran jika saya bangun jam 3 pagi, padahal feature ini merupakan program yang sangat berarti untuk kehidupan saya, tetapi saya harus merelakannya. Mulai saat itu, saya mulai melupakannya, melupakannya karena saya harus mempersiapkan diri mengikuti Ujian Nasional pada tahun 2010. Waktu pun berlalu begitu cepat.

            Pada awalnya saya benar-benar lupa bahwa pernah ada program bernama Jejak Islam. Namun saya ingin berterima kasih pada sebuah perhelatan akbar bernama 2010 FIFA World Cup yang diadakan di Afrika Selatan. Sejak ditayangkannya tayangan sepak bola sedunia tersebut, insomnia saya kambuh. Saya mengetahui tentang adanya tayangan Prison Break di RCTI juga karena adanya Piala Dunia. Kembali lagi ke cerita, pada hari kamis tanggal 24 Juni 2010, akhirnya saya “bertemu” dengannya lagi di re-run Jejak Islam produksi tahun 2009 yang ditayangkan pada pukul 3 pagi, pada saat itu ia berada di Madrasah An-Nur, Saigon/Ho Chi Minh, Vietnam. Saya menjadi teringat sebuah kalimat, “kalau jodoh tak akan kemana.” Namun, saya tidak tahu kalau Nuray Rifat telah pindah ke program lain.

            Pada hari sabtu tanggal 26 Juni, saya melihatnya liputan di program Fakta & Data, yang tayang pada pukul 11:30 WIB di tvOne. Pada waktu itu ia meliput tentang Jakarta Fair, dan saya masih ingat ketika ia memakan kerak telur yang ia pesan, manis sekali.

Saya kembali melihatnya pada program yang berbeda, kali ini program Yang Terlupakan, tayang pada hari Minggu, 25 Juli pukul 5 sore, dengan wardrobenya yang berwarna kuning. Yang Terlupakan merupakan feature yang menyorot hal-hal di sekitar masyarakat kita yang mulai terlupakan, tergerus oleh perkembangan jaman yang sangat cepat. Pada segment 1 dan 2, ia saat itu meliput tentang seorang pengusaha yang menyediakan rumah-rumah murah untuk masyarakat. Dan pada segment 3, ia mewawancarai para tukang bangunan yang berada di pinggir jalan di daerah Jakarta, sangat mengharukan. Sebulan kemudian, pada program Yang Terlupakan yang tayang hari Sabtu 21 Agustus (bertepatan dengan bulan ramadhan) pukul 1 pagi, saya melihatnya sedang seru bermain bersama anak-anak di Sekolah Alam, Bandung, namun hanya pada segment 3 saja.

Hari-hari berikutnya, saya tidak bisa lagi melihatnya, hanya re-run Jejak Islam saja yang saya dapati (Selasa 31/08/2010 & Kamis 16/09/2010 di Masjid Jami’ul Mubarak, Rabu 15/09/2010 di Madrasah An-Nur). Tapi walaupun begitu saya sangat senang.

Saya sempat mencari tahu tentang dirinya di mesin pencari Google, berharap saya bisa lebih mengenali pribadinya. Setelah penelusuran, saya baru tahu bahwa Nuray Rifat merupakan ex-host dari Jejak Petualang Trans 7 (atau dulu TV7). Nuray bergabung dengan Jejak Petualang pada tahun 2006 pada umur 21 tahun (mudah-mudahan saya tidak salah, karena informasi seperti itu yang saya dapat di internet). Sebelum bisa bergabung dengan tim Jejak Petualang, saya membaca bahwa Nuray beserta peserta lainnya harus mengikuti audisi berupa pelatihan, dan ternyata Nuray benar-benar terpilih dan mendapat kesempatan liputan pertama di Papua. Saya tahu bahwa pekerjaan ini tidaklah semudah yang dibayangkan. Saya merasa sedih saat Ray kakinya terkilir pada saat liputan bersama Helju Sepli di Sumatera Barat, pada saat suasana hujan pula (saya mengetahuinya dengan melihat video Jejak Petualang.) Dari internet pula saya mengetahui kalau Ray pernah menjadi reporter program Nuansa 1000 Pulau.

(...Saya kemudian hanya merenung, kemana saja saya selama tahun 2006-2008...)

Pada hari Sabtu tanggal 18 September, saya hanya bisa tersenyum melihat Nuray Rifat ada di feature Keliling Indonesia, yang tayang pukul 9:30 WIB. Feature Keliling Indonesia yang didukung oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata adalah feature bergenre travelling yang menyajikan tentang keindahan Indonesia disetiap episodenya. Hanya dua kali saya melihatnya, satu lagi ketika ia berada di Bali.

Sesaat harapan untuk melihat ia hilang lagi setelah feature Keliling Indonesia tidak ditayangkan. Namun, karena konsistensi dan keyakinan saya untuk tetap menonton tvOne, kesungguhan saya membuahkan hasil. Saya mencoba mencari tayangan-tayangan tvOne di situs YouTube. Alhamdulillah, beberapa video ketika ia berada di Bali berhasil saya dapat untuk mengobati “rindu” saya.

Pada saat itu (awal Januari 2011) ada sebuah commercial dari feature terbaru tvOne bernama Ujung Negeri, sebuah program dokumenter yang membahas pulau-pulau terluar di Republik Indonesia. Saya yakin, ia pasti menjadi salah satu reporter di sana. Setelah saya menunggu episode pertama, yang saya lihat bukan Nuray, tetapi reporter lain. Kemudian pada Jumat berikutnya, ternyata benar bahwa Nuray menjadi reporter Ujung Negeri. Saya melihatnya pada hari Jumat tanggal 4 Maret 2011 pada pukul 4 sore, dan merupakan episode yang paling saya ingat. Ia kali ini berada di Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara. Berbagai pengalaman ia alami, mulai dari menunggu kapal selama 10 jam (dari jam 7 malam sampai jam 5 pagi), susahnya menuruni kapal menggunakan tangga (saya khawatir karena Ray terlihat takut sekali), hingga mengarungi laut ditengah hujan.

Kalau saya bisa meminta (walaupun tidak mungkin), saya ingin sekali menemaninya pada saat itu, namun saya yakin kalau Ray merupakan seseorang yang hebat, dan mampu melewatinya. Ketika sudah sampai di pulau yang dituju, Ray mulai menjelajah isi pulau tersebut, mulai dari pantainya (yang lautnya berbatasan dengan negara Philiphina), tempat pembangkit listriknya, hingga bersama anak-anak pergi sekolah dengan menyeberangi sungai yang dalam dengan memegang tas setinggi-tingginya di atas kepala agar tidak basah terkena air sungai. Pengalaman yang unik sekali ketika saya melihatnya. Dan pada akhir program ujung negeri, Nuray terlihat sedang memandang matahari terbenam yang indah.

Terakhir saya melihatnya yaitu pada saat liputan di kepulauan Natuna, Jumat 1 April kemarin. Ray berkata bahwa perjalanannya kali ini merupakan kedatangannya yang kedua kali ke kepulauan Natuna, namun belum ada perubahan yang berarti.

Sayang sekali setelah sekian banyak saya bercerita mengenai petualangannya, saya tidak bisa mencantumkan foto dari Nuray Rifat, karena saya tidak memiliki foto dirinya (makanya sekarang saya sedang berusaha untuk membeli TV Tuner untuk dapat mengabadikan petualangannya dalam bentuk foto), sehingga hanya ingatan saya yang dapat menggambarkan tentang dirinya. Dari waktu ke waktu, model rambutnya hanya sedikit mengalami perubahan. Model pertama yang paling saya suka adalah model rambutnya yang pendek dan tidak diikat ketika liputan di Ho Chi Minh tahun 2009. Sejak tvOne menayangkan Ujung Negeri, saya sudah merasa terbiasa dengan model rambut Ray yang diikat. Namun pada perjalanannya ke Natuna kemarin, setelah setengah perjalanan, ia membuka ikatan rambutnya, dan ternyata panjang rambutnya sudah melebihi bahu. Itulah Ray tercantik yang pernah saya lihat. Secara overall, satu hal dasar yang membuatnya berbeda dari reporter lainnya adalah kelembutan ucapannya. Jadi kesimpulannya, ia layak mendapat Lifetime Achievement Awards khusus dari blog ini.

Saya hanya bisa tersenyum mengingat semua hal itu ketika menulis artikel ini. Tulisan ini tidak bertujuan apa-apa selain hanya keinginan saya untuk berbagi cerita tentang “pengalaman” saya bersama Nuray Rifat, cerita tentang seorang fans yang mengagumi seorang reporter terbaik dalam hidupnya. Jika Kak Ray membaca ini, saya ingin mengucapkan terima kasih telah berbagi semua kisah perjalanan Kakak kepada diri pribadi saya. Kapan-kapan datang ke Medan ya.

{ 3 komentar... read them below or Comment }

  1. hai hari...
    Aq terharu membaca tulisan di blog kamu. Ternyata kamu sangat mengagumi seorang Nurray Rifat yang kebetulan adalah sahabat saya. Sekedar tambahan informasi untuk Hari, sekarang ini Nurray sedang menjadi reporter di program baru bertajuk Socialite, di tvone. Kalau kamu ada waktu, nonton acaranya ya setiap hari sabtu jam 8 malam.
    Nanti akan saya sampaikan salam kamu untuk Nurray. Mudah2an, dia bisa bersahabat dengan kamu lewat media online.
    Tetap Semangat ya!

    ReplyDelete
  2. senang bisa baca blog kamu yang ternyata mangagumi salah seorang wanita yang aku kenal juga. setau saya selama kuliah dia emang orangnya pinter, supel, n cantik..

    senang bacanya..
    :)

    ReplyDelete
  3. Terima kasih semuanya atas tanggapannya, arigatou :)

    ReplyDelete

- Copyright © 2013 Hari Raywima - Hatsune Miku - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -